4 min Reading
1 Comment
Semua manusia pastilah memiliki
mimpi-mimpi yang ingin disukseskan. Dalam artian, mimpinya itu ingin menjadi
sebuah kenyataan. Pun juga bermanfaat dan berguna, lebih-lebih memberikan motivasi
bagi yang lain. Seperti halnya mereka yang bermimpi menjadi dokter. Mereka akan
dengan sungguh-sungguh mengejar mimpi itu menjadi kenyataan. Dan setelah mereka
dapat menyandang kenyataan itu (baca: Menjadi dokter), mereka akan dihadapkan
dengan pergolakan batin, bahwasanya ia menjadi dokter tidak sekedar jadi dokter
biasa, apalagi mendapatkan embel-embel dokter gadungan. Jadi, secara tidak
langsung mereka juga akan berusaha menjadi dokter yang bermanfaat dan berguna,
bahkan memberikan motivasi bagi semua orang.
Sedikit banyak, manusia yang
memiliki mimpi akan berusaha seperti contoh diatas. Berusaha menjadikan
mimpinya itu nyata dan bermanfaat, bahkan memberikan motivasi. Akan tetapi,
bilamana kenyataan mengatakan lain (baca: mimpinya hanya sekedar mimpi semata),
mereka sering kali mendapati dirinya
frustasi sebab apa yang dimimpikan tidak sesuai dengan yang diinginkan. Inilah
yang salah dan tidak perlu dicontoh. Maka dari itu, seharusnya mereka yang
mengalami kegagalan mimpi bisa belajar dari kegagalan itu dan tidak larut di
dalamnya. Bagusnya lagi mereka dapat membuktikan bahwasanya mereka bisa mewujudkannya,
meski untuk sekarang ini waktu belum bisa menjawab mimpinya.
Setelah sedikit panjang lebar, saya
tidak akan membahas mengenai mereka yang frustasi dengan mimpi-mimpi mereka. Tetapi
saya akan membahas mengenai mereka yang mampu mewujudkan mimpi mereka dan untuk
kedepannya. Alasan saya simple, manusia lebih suka pembahasan yang enak dan
memberikan semangat, bukan frustasi maupun penyesalan yang berujung kegalauan.
Walau tidak menutup kemungkinan pembahasan mengenai hal itu terkadang mampu
memberikan pencerahan dan pelajaran tersendiri bagi manusia.
Sebelumnya, saya akan mencoba membahas
mengenai proses menuju mimpi itu jadi kenyataan. Untuk menuju kesana, proses
yang sebaiknya dijalani adalah adanya persiapan dan kesiapan. Pastinya,
persiapan dan kesiapan itu harus didasari adanya niat yang kuat dan rasa percaya
bahwa mereka dapat mewujudkannya. Bahkan juga percaya, bahwa mimpinya tersebut
dapat memberikan manfaat, baik itu untuk sendiri maupun banyak orang. Dari niat
dan kepercayaan itulah mereka akan dengan sungguh-sungguh mengejar mimpi mereka
supaya terwujud. Meski, seringkali rasa malas masih saja menggoda dalam proses
perwujutan mimpi itu. Untuk itu, kita sebaiknya memandang rasa malas itu
sebagai bumbu yang perlu diolah sehingga nantinya memberikan cita rasa yang
enak dan lezat. Bukan menjadikannya sebagai pemuas batin yang perlu dimanjakan.
Dari kedua hal itulah saya rasa kesungguhan akan tercipta dan jalan menuju mimpi itu jadi terang dan terasa mudah
untuk dicapai.
Bagi mereka yang telah melewati
proses diatas dan mendapati mimpi mereka menjadi kenyataan. Sudah semestinya
mereka bersyukur atas hal itu. Kalaupun tidak, mereka termasuk sebodoh-bodohnya
manusia, sebab sudah diberikan nikmat (mimpinya jadi kenyataan) tetapi
mendustakannya (dalam artian tidak mensyukurinya).
Maka dari itu, mereka haruslah
ingat dasar utama dari bermimpi sehingga nantinya pribadi mereka itu baik dan
bagus. Nah, untuk dasarnya sendiri yaitu mereka yang bermimpi dan berani
untuk mewujudkannya, harus berani juga dalam bertanggung jawab. Seperti halnya ingin
menjadi dokter dan terwujud jadi dokter, ia bersyukur mimpinya terwujud. perilaku
mensyukuri tersebut merupakan sebuah pertanggungjawaban pada Tuhan atas nikmat
yang diberikan.
Secara tidak langsung, pemimpi
yang mendapati mimpinya jadi kenyataan, seharusnya mereka akan dibawa untuk berpikir
–Proses yang saya gunakan apakah sudah benar? Berdampak pada mewariskan sebuah
sejarah pada masanya atau menorehkan masa depan?- Sebelum menjawab pertanyaan
itu, pemimpi harus mengetahui apa yang dimaksud dengan mewariskan sejarah
ataupun menorehkan masa depan. Baiklah, saya akan menjabarkan apa yang dimaksud
dengan keduanya. Pertama, mewariskan sejarah adalah membuat proses menuju mimpi-mimpi
yang telah terwujud itu hanya menjadi sebuah sejarah, yang mana sejarah sendiri
itu perlu diingat, dikenang, dihormati, dipelajari sehingga memberikan manfaat.
Sedangkan menorehkan masa depan adalah membuat proses menuju mimpi-mimpi tadi
menjadi pengubah masa depan yang cerah, bukan sekedar menjadi sejarah saja.
Saya berikan contoh yang cukup
mudah, untuk mereka yang memiliki anak, pastilah mempunyai mimpi supaya anaknya
jadi anak yang baik dan benar. Untuk menjadikannya menjadi kenyataan pastilah
ada proses disana, yaitu cara mendidiknya. Cara mendidiknya itulah yang nantinya
mempengaruhi menjadi mewariskan sejarah atau menorehkan masa depan. Umumnya
mereka yang memiliki anak masih kecil mendidiknya dengan memberikan mainan.
Tidak salah sih, tapi hal ini hanya akan mewariskan kenangan atau
sejarah pada anaknya, bahwasanya dulu pernah diberikan mainan. Akan berbeda
bila anaknya yang masih kecil diberikan pelajaran tentang agama, seperti
membaca Al-Qur’an sejak kecil. Hal ini akan berdampak untuk masa depan, artinya
hal itu menorehkan masa depan pada anaknya.
Saya rasa contoh itu cukup
memahamkan dan mudah untuk dimengerti. Lalu, setelah saya jelaskan secara panjang
lebar seperti di atas, ada sebuah pertanyaan untuk kalian yaitu kalian mau
mewariskan sejarah atau menorehkan masa depan? Pilih yang mana? Nah, setelah
kalian memilihnya, pati kalian tahu dong terbawa kemana mimpi-mimpi
kalian dan dampak apa saja yang akan terjadi. Saran saya, cobalah untuk melakukan
yang terbaik untuk pilihan yang kalian pilih dalam kehidupan kalian. Tapi ingat,
hal itu mewariskan sejarah atau menorehkan masa depan? (Ahmaedeja/ahmaestudio)
1 komentar:
Sejarah dan masa depan, ulasan yg bgus untuk sy simak lebih lanjut,,,,
Posting Komentar